Anak dan Buku






Tiga hari yang lalu saya pulang kerja sambil membawa pesanan Umar anak saya, buku berjudul “Winnetou”. Itu adalah buku kedua karya Karl May yang kami beli. 24 jam kemudian buku setebal 346 halaman tersebut selesai dibaca Umar.

Sejak menajdi orang tua kami punya keinginan kuat agar anak-anak kelak senang membaca. Kebanyakan orang tua punya impian yang serupa.

Saya dilahirkan dan tumbuh dalam keluarga yang memiliki tradisi membaca. Bapak sangat senang membaca dan mengkoleksi banyak sekali buku – kebanyakan buku bertema agama.

Ketika pulang dari tugas luar kota seringkali bapak membawa segepok majalah bekas yang didapatkan dari temannya yang berlangganan untuk anaknya. Dan kami anak-anaknya menyambut dengan gembira oleh-oleh tersebut. Tanpa kami sadari bapak sedang menanamkan kegemaran membaca. Jika ada uang lebih kami sering menyempatkan membeli buku dari majalah Bobo bekas hingga novel Trio Detektif.

Tradisi membaca tersebut kami teruskan pada anak-anak kami. Sejak Umar kecil kami sering mengajaknya ke Gramedia atau toko buku lainnya. Kalau kantong sedang kempes cukup dengan membaca gratis di tempat kemudian pulang. Pengalaman tersebut sangat menyenangkan dan ternyata begitu mebekas bagi Umar sehingga setelah bisa membaca maka buku menajdi barang wajib yang harus kami beli dengan rutin.

Sebagaimana anak lainnya, komik menjadi salah satu kegemarannya. Dari Donal, Smurf, Tin-tin, juga beragam komik sains seperti Why dan Super Science. Akhir-akhir ini Umar lebih menikmati bacaan yang lebih berat, novel. Awalnya kami menjadikan buku “Lord of The Ring” sebagai bacaan dan narasi wajib mengikuti saran dari buku “Cinta yang Berpikir” oleh Elen Kristi. Kemudian novel-novel lainnya pun mulai dibacanya.

Selain harus rutin membeli buku, kami juga harus menghilangkan gangguan paling buruk, “TV”. Sudah lama sekali kami tidak lagi memiliki TV. Acara-acara di TV nasional yang menurut saya kurang mendidik dan tidak layak ditonton adalah salah satu alasannya. Selain itu kami ingin mengisi waktu senggang kami dengan kegiatan yang lebih bermanfaat seperti membaca.

Tahap selanjutnya kami sedang berpikir agar Umar berminat untuk menulis.

Perigi, 29 Oktober 2015



gtag('config', 'UA-109654239-1');



Tentang Kampung Halaman






Ketika berbicara tentang kampung halaman hatiku selalu masygul. Bukan karena aku punya kenangan buruk tentang kampung halaman bukan juga karena aku tak bisa pulang ke kampung halaman. Masalahnya lebih menyakitkan daripada itu. Aku tak punya kampung halaman. Bagaimana mungkin? Baiklah, akan aku definisikan dulu apa yang dimaksud kampung halaman menurutku.

Kampung halaman adalah tempat dimana kita dilahirkan dan menghabiskan masa kecil kita hingga menjelang dewasa. Tempat dimana kita punya ingatan yang mendalam tentang teman-teman bermain gundu dan petak umpet. Ingatan tentang cinta monyet pada gadis paling cantik di kampung. Dan kampung halaman adalah tempat yang selalu kita rindukan saat lebaran.

Kalau definisinya seperti itu, lantas mengapa aku tidak punya kampung halaman? Aku anak kedua dari 10 bersaudara. 10 bersaudara ini dilahirkan di 8 kota berbeda. Kalau dikalkulasi, rata-rata kami tinggal selama 2 tahun di tiap kota yang kami singgahi. Tuntutan pekerjaan bapak yang mengharuskan kami hidup seperti kaum hippies.

Setelah bapak pensiun, orang tua dan adik-adik yg masih kecil kembali ke kampung halaman bapak di Ambarawa. Kemudian ada kesepakatan tidak tertulis bahwa kampung halaman kami adalah Ambarawa. Jika orang bertanya ” asli mana”? Kami dengan tegas menjawab ” Ambarawa” atau “Salatiga” atau “Semarang” meskipun lokasi persisnya tidak di ketiga tempat itu, tapi di Dusun Karang Kec. Banyubiru Kab. Semarang.

Sebelum Bapak pensiun kami selalu menjawab pertanyaan mengenai kampung halaman dengan tempat dimana kami tinggal, yang berarti berubah setiap 2 tahun. Setelah Bapak pensiun kami punya “kampung halaman” yang tidak lagi berubah. Dan itu sebuah anugerah.

Keadaan ini menjadikan aku orang yang suka berpetualang sekaligus mudah jenuh. Aku bisa mengerti dan berbicara bahasa jawa dari berbagai dialek. Jika aku bertemu orang Jawa Timur, dengan mudah aku akan berbicara dengan dialek suroboyoan dan tidak lupa dengan kata “jancuuuk”. Akupun akan dengan lancarnya berbicara dengan dialek “ngapak” sama mudahnya dengan berbicara dialek “mataraman”. Bahasa Sunda pun aku mengerti meskipun cukup sulit untuk berbicara dengan bahasa yang indah mendayu ini.

Keinginanku berpetualang terkabul saat aku mulai bekerja. Dengan pekerjaanku sekarang ini memberi kesempatanku untuk mengelilingi Nusantara. Aku pernah menyinggahi Sabang, Atambua, pedalaman Riau, danau Toba dan berbagai tempat lainnya dengan biaya kantor (ini yang penting).

Dan ketika orang bertanya padaku “aslinya mana?” aku kembali masygul menerjemahkan makna “kampung halaman”.

Perigi, Akhir 2013



gtag('config', 'UA-109654239-1');