Danau Tolire






Jika singgah ke Ternate sempatkan barang sejenak mampir ke danau Tolire. Tahun 2013 bulan November saya mendapatkan kesempatan mengunjungi Ternate. Kawan saya d Ternate mengajak saya mengunjungi Danau Tolire. Danau ini terletak 10 km dari pusat kota Ternate. Sebenarnya danau Tolire ini ada, yaitu Tolire Besar dan Tolire Keci. Keduanya hanya dipisahkan jarak 200 meter. Danau Tolire Besar lah yang akan saya ceritakan disini.

danau-tolire

Bentuknya tidak seperti danau pada umumnya. Permukaan air danau terletak 50 meter di bawah dari pinggir danau. Bentuk danau ini seperti loyang raksasa sehingga lebih mirip sumur raksasa daripada danau. Sampai sekarang belum ada yang mengetahui kedalaman danau tersebut. Menurut hikayat leluluhur danau ini memiliki kedalaman berkilo-kilo meter hingga terhubung ke laut. Terletak di bawah kaki gunung Gamalama dan airnya berwarna hijau membuat danau ini terkesan magis.

Menurut hikayat danau ini dulunya adalah sebuah kampung yang masyarakatnya hidup sejahtera. Kampung ini kemudian dikutuk oleh penguasa alam semesta karena salah seorang ayah di kampung itu menghamili anak gadisnya sendiri. Saat ayah dan anak gadisnya yang dihamilinya itu akan melarikan diri ke luar kampung, tiba-tiba tanah tempat mereka berdiri anjlok dan berubah menjadi danau. Danau Tolire Besar dipercaya sebagai tempat si ayah. Sedangkan Danau Tolire Kecil diyakini sebagai tempat si gadis. Oleh karenanya Danau Tolire ini disebut juga dengan Lubang Kampung Tenggelam atau dalam bahasa Ternate disebut Tolire Gam Jaha.

https://id.wikipedia.org/wiki/Danau_Tolire



gtag('config', 'UA-109654239-1');



Jangan Percaya Film






Adegan-adegan dalam film nampak begitu nyata dan keren. Namun jangan pernah percaya dengan adegan di film. Dua cerita nyata di bawah adalah buktinya.

Cerita 1

Saat itu saya berusia 11-12 tahun. Terinspirasi dengan adegan di film, sang jagoan dengan mudah melempar golok/pisau dan menancap pada sasaran dengan mudahnya. Saya ingin menirunya, saya pasti bisa. Berdiri beberapa meter di depan pohon kelapa depan rumah, tangan kanan saya menggenggam golok dengan kencang. Membuat kuda-kuda dengan gagah seperti Brama Kumbara. Saya lempar golok ke arah pohon kelapa, lemparan saya bikin berputar persis seperti adegan di film. Sepersekian detik kemudian kepala saya terasa sakit terbentur benda dengan keras. Kemudian saya sadar bahwa golok yang saya lempar tadi alih-alih menancap di pohon kelapa seperti yang saya harapkan justru terpental dan kembali mengenai dahi saya. Untungnya yang mengenai dahi saya bagian gagang golok, bukan bagian ujungnya yang tajam. Kalau saja bagian tajamnya yang mengenai dahi, mungkin kelak saya akan membual bahwa luka di dahi akibat bertempur dengan Voldemort.

Cerita 2

Belum puas dengan adegan lempar golok, saya mengulangi lagi meniru adegan film. Jagoan di film ketika memukul atau menabrak kaca maka kaca akan pecah berkeping-keping dan jagoan tak terluka sedikitpun. Saat itu saya berusia 15 tahun. Di belakang rumah terdapat jendela yang sudah tidak terpakai. Jendela ini terbagi menjadi 6 bagian dan tiap bagian terdapat kaca yang tak terlalu tebal. Ada beberapa bagian kaca yang masih utuh.

Teringat adegan di film, saya memberanikan diri untuk menirunya. Tanpa pengaman apapun saya pukul salah satu kacanya. Kacanya memang pecah, tapi tidak berkeping-keping seperti di film. Kaca pecah tak beraturan sebesar tinju saya. Bagian kaca yang tak hancur beberapa bagiannya membentuk ujung yang tajam. Bagian tajam inilah yang menggores tangan saya yang mengepal. Ya tentu saja darah mengalir meskipun tak seberapa.

Kebodohan terulang lagi.



gtag('config', 'UA-109654239-1');