Mobil Masa Depan itu Dimulai oleh Tesla






Akhirnya Tesla resmi meluncurkan model S untuk pasar umum. Seremoni peluncuran pada 28 Juli ini ditandai dengan penyerahan 30 sedan tersebut kepada pembeli. Mobil ini dijual dengan harga $3500 sebelum dipotong subsidi.

Tesla, inc, perusahaan yang memproduksi mobil listrik ini didirikan oleh Martin Eberhard dan Marc Tarpenning. Nama Tesla dipilih untuk menghomrati salah satu ilmuwan besar Nicolas Tesla. Sebelumnya kedua orang tersebut pada 1997 mendirikan NuvoMedia yang memproduksi Rocket eBook dan kemudian menjualnya ke Gemstar-TV Guide International sebasar $187 juta. Rocket eBook merupakan e-reader komersial pertama jauh sebelum Kindle dikenal.

Kedua pendiri Tesla tersebut bertemu dengan Musk saat Musk mulai sibuk dengan proyek Spacex. Musk yang awalnya agak skeptis kemudian menyuntikkan dana $7,5 juta dan menjadikannya sebagai komisaris utama. Ian Wright dan J.B. Strauble yang awalnya sudah kenal Musk kemudian bergabung dengan Tesla. Kelima orang inilah yang dianggap sebagai pendiri Tesla. Kini Tinggal Elon Musk dan J.B. Straubel yang masih di Tesla

Saat Tesla didirikan sebenarnya sudah terdapat mobil listrik yang diproduksi masal yaitu Toyota Prius. Mobil yang diluncurkan pertama kali tahun 1997 ini masih menngunakan teknologi hybrid, belum sepenuhnya menngunakan listrik. Mimpi Musk lebih besar daripada itu. Musk menginginkan mobil yang sepenuhnya tanpa menggunakan energi fosil, harga terjangkau dan juga harus keren.

Sebelum mendirikan Tesla, Musk memiliki 11,7% saham di Paypal. Akuisisi eBay terhadap paypal pada Oktober 2002 menghasilkan $165 juta untuk Musk. Musk menginvestasikan uang tersebut ke berbagai perusahaan diantaranya; SpaceX, SolarCity dan tentu saja Tesla.

Butuh hampir 3 tahun bagi Tesla untuk membuat purwarupa mobil listrik. Model Roadster pertama kali diluncurkan pada tahun 2006. Model ini merupakan mobil masal pertama yang sepenuhnya digerakkan energi listrik. Selanjutnya Tesla mengeluarkan model S (2009) dan model X (2012). Ketiga model tersebut masih terlalu mahal dengan harga paling murah $71.000. Pandangan publik di masa lalu bahwa mobil listrik itu lamban dan gak keren berhasil dipatahkan oleh Tesla.

Perjalanan Tesla tidak berjalan mulus, beberapa kali sempat mengalami permasalahan serius . Martin Eberhard yang menjadi CEO sejak berdiri, dicopot dari jabaatannya pada 2007 dan keluar dari Tesla pada 2008. Di bawah kepemimpinannya Tesla dianggap tidak mengalami kemajuan signifikan, bahkan cenderung menghambur-hamburkan uang investor. Tahun 2008 Tesla – dan juga Spacex – nyaris di ambang kebangkrutan. Ketiga peluncuran Spacex gagal dan Tesla belum juga menjual banyak mobil. NASA menyelamatkannya ketika Musk mendapatkan uang $1,6 milyar untuk 12 kali peluncuran.

Pada Juni 2010 Tesla melakukan melakukan IPO dengan menjual 13,3 juta saham seharga $17 perlembar. Kini harga sahamnya mencapai peningkatan 1600% dibandingkan saat IPO dan market cap Tesla melebihi GM dan Ford.

Dengan rencana Tesla yang akan memproduksi 500.000 mobil pertahun akan ada kebutuhan baterai yang sangat besar. Untuk itu pada tahun 2014 Tesla bekerjasama dengan Panasonic dan partner strategis lainnya mendirikan Gigafactory yang memproduksi baterai ion lithium . Direncanakan pada tahun 2018 perusahaan yang berlokasi di Nevada ini bisa beroperasi dengan penuh dan diperkirakan mampu memproduksi baterai ion lithium lebih banyak dibandingkan seluruh pabrikan ion lithium di dunia pada tahun 2013.

Pengendara mobil Tesla juga dimudahkan dengan dibangunnya stasiun pengisian baterai yang dibangun di jalanan Amerika. Stasiun pengisian ini dibangun oleh Solarcity, perusahaan lain milik Musk.

Energi fosil yang kian habis mengharuskan kita berpikir untuk mencari energi laternatif lain dan energi matahari menjadi salah satu pilihan penting. Diperkirakan konsumsi BBM akan mencapai puncak di tahun 2040 kemudian akan menurun drastis.

Menjadi pelopor teknologi mobil listrik memberikan kesempatan Tesla meraup keuntungan besar. Namun musk punya pandangan lain. Pada Juni 2014 semua paten yang dimiliki Tesla dibuka ke publik. Menurut Musk, cara ini sesuai dengan cita-cita didirikannya Tesla yaitu mempercepat adopsi alat transpotasi yang berkelanjutan.

Apapun yang terjadi, Musk dan Tesla akan dikenang sebagai pelopor kendaraan masa depan yang ramah energi.

Jeff Bezos dan Keajaiban Amazon






Jeff Bezos, pendiri Amazon sempat menjadi orang terkaya di dunia pada 27 Juli meski hanya sesaat. Sahamnya yang melonjak sementara membuat kekayaannya mencapai $91 milyar melampau kekayaan Bill Gates senilai $90 milyar.

Bill Gates, pendiri Microsoft ini telah menjadi orang terkaya di dunia sejak 1995, hanya beberapa kali predikat itu berpindah tangan ke Carlos Slim (2010-2013) dan Warren Buffet (2008). Banyak yang memprediksi kelak Bezos lah kandidat paling kuat yang akan menggeser tahta Gates.

Berawal dari mimpi membuat “toko buku terbesar di dunia”, Amazon kini telah menjadi kerajaan bisnis yang menakjubkan. Bezos mendirikan amazon.com yang awalnya berjualan buku secara daring pada 1995 menantang langsung Barnes & Noble, pemain lama di bisnis buku. Mulai tahun 1998 Amazon mulai menambah jenis barang yang dijual. Kini Amazon menajdi toko online retail terbesar di dunia dan dijuluki “Everything Store“.

Tak puas hanya dengan berjualan online, pada 2005 Amazon menambah lini bisnisnya dengan Amazon Web Service (AWS), menjadikannya salah satu pemain besar public cloud di segmen Infrastructure as A Service (Iaas). Saat ini AWS menguasai lebih dari 40% pasar public cloud meninggalkan jauh 2 rival beratnya Microsoft Azure dan Google Cloud Platform. Salah satu keunggulan AWS adalah jenis layanan yang beragam, hingga sekitar 119 jenis layanan ditawarkan.

Tergiur dengan bisnis hiburan, tahun 2005 Amazon meluncurkan layanan Amazon Prime. Layanan ini menjual video dan musik digital. Pelanggannya kini mencapai 80 juta, dan secara konsisten naik terus menggerus market share Netflix yang masih memimpin di pasar Amerika.

Untuk terus menjaga pelanggan di segmen buku, Amazon meluncurkan Kindle, sebuah perangkat untuk membaca e-book pada tahun 2007. Ini merupakan perangkat keras pertama yang dikembangkan dan dijual ke pasaran oleh Amazon. Kindle menggunakan tampilan kertas elektronik e-ink yang mempunyai 16 tingkat warna abu-abu. Kindle terus berinovasi dengan mengeluarkan berbagai varian termasuk Kindle Fire, varian yang berlayar LCD. Amazon kini menjual lebih banyak e-book dibandingkan buku fisik dan di pasar Amerika menguasai 74% pasar e-book meninggalkan jauh rival-rivalnya.

perjalanan-amazon-jeff-bezos
Perjalanan Jeff Bezos dan Amazon

Amazon yang awalnya dikenal sebagai toko online sepertinya ingin mengubah dirinya menjadi pemain di segmen teknologi inovasi. Setelah meluncurkan Kindle, pada 2015 diluncurkan Amazon Echo. Perangkat yang berwujud speaker pintar ini mampu bekerja dengan perintah suara. Menurut laporan terpercaya, Echo mulai dikembangkan di laboratorium sejak 2010. Lupakan Apple yang produknya pernah menjadi pelopor; iPod, iPhone dan iPad. Echo kini mengubah permainan. Tak ingin ketinggalan, Google meluncurkan produk sejenis, yaitu Goolge Home kemudian Apple dengan Apple HomePod. Perangkat-perangkat ini menggunakan kecerdasan buatan sebagai fondasinya.

Tak puas hanya membesarkan Amazon, Jeff Bezos juga bermain di sektor lain. Washington Post, salah satu media besar di Amerika dibeli dan diselamatkan dari kehancuran.

Cukup. Belum. Bezos punya mimpi kelak manusia bisa melakukan wisata ke luar angkasa dengan biaya terjangkau, mimpinya coba diwujudkan dengan mendirikan Blue Origin. Bahkan Blue Origin sudah ada secara formal sejak tahun 2000.

Setelah era Bill Gates dan Steve Jobs, dunia menyaksikan karya-karya besar Jeff Bezos dan Elon Musk.



gtag('config', 'UA-109654239-1');

Blokir






Beberapa hari ini kita dihebohkan dengan pemblokiran Telegram. Meskipun hingga saat ini hanya Telegram versi web yang diblokir namun kehebohannya tak kalah dengan penutupan Vimeo yang dilakukan oleh menkominfo di era sebelumnya. Alasannya karena Telegram digunakan sebagai alat komunikasi oleh para teroris dan juga wadah penyebaran paham Islam ekstrem.  Belakangan diketahui bahwa ada kelalaian dari pihak Telegram dalam menanggapi permintaan pemerintah RI untuk menutup ribuan kanal tersebut.

Sensor internet sebenarnya hal yang biasa dilakukan di berbagai negara. Contoh paling ekstrem adalah Korea Utara. Konon di sana warga biasa tidak bisa menikmati internet. Hanya warga yang memiliki jabatan memiliki akses terhadap internet. Negara lain yang melakukan sensor cukup keras adalah Kuba, Iran, Saudi Arabia dan China.Cerita menarik mengenai sensor internet terjadi di China. Tak tanggung-tanggung, negara dengan penduduk nyaris 1,4 milyar ini berani memblokir pemain besar seperti Google, Facebook, Twitter, dan daftarnya masih panjang.

Raksasa teknologi dalam negeri, Baidu mendapatkan berkah dengan diblokirnya Google. Baidu memiliki banyak layanan diantaranya; mesin pencari, peramban, dan sebagainya. Saat Google masih bercokol di China, Baidu tetap menjadi mesin pencari nomor 1 di China dengan menguasai 80% market share. Hengkangnya Google menjadikan Baidu nyaris satu-satunya mesin pencari di China. Nilai perusahaannya mencengangkan, sekitar $ 52,33 milyar. Menempatkannya pada urutan 19 di NASDAQ dalam kategori Technology Company
http://www.nasdaq.com/screening/companies-by-industry.aspx?industry=Technology&sortname=marketcap&sorttype=1

China juga nemiliki banyak produk lain menggantikan produk global di antaranya; Renren menggantikan Facebook, Weibo menggantikan Twitter, Wechat menggantikan WhatsApp, dan masih banyak lagi.

perbandingan-facebook-renren-whatsapp-wechat-twitter-weibo
Perbandingan pengguna produk global dibandingkan produk penggantinya di China

Pengguna internet di China tahun 2016 tercatat sebanyak 720 juta atau sekitar 20% dari total pengguna internet dunia. Dengan angka sebear itu tentu China memiliki potensi pasar yang luar biasa. Penggunaan bahasa dan aksara yang unik memampukan produk lokal bersaing lebih baik. Bahkan ketika sebuah produk hanya fokus di pasar domestik pun, ini sudah cukup menguntungkan.

Jadi, setuju atau tidak dengan pemblokiran ?. Ngomong-ngomong fans ISIS pada migrasi menggunakan Baaz tuh.



gtag('config', 'UA-109654239-1');



Memilih Homeschooling






Umar kelas berapa ?”

Ini adalah pertanyaan paling sulit dijawab ketika mudik kemarin. Biasanya Umar menjawab “kelas lima” sambil malu-malu dan sedikit melirik kedua orangtuanya. Kepada sebagian penanya kami akan menjelaskan tentang homeschooling, sebagian yang lain cukup puas dengan jawaban singkat tadi.

Pertanyaan tersebut sebenarnya cukup mudah dijawab bagi anak lain yang bersekolah formal. Tapi bagi sebagian pelaku homeschooling pertanyaan tersebut menjadi rumit.

Tidak Tiba-Tiba
Umar gak mau sekolah

Itu diucapkan Umar sekitar september-oktober 2013. Setelah masuk SD selama hampir 3 bulan, kemudian dia memutuskan untuk tidak lagi bersekolah. Awalnya 2 minggu tidak masuk sekolah karena sakit kemudian bablas mbolosnya, he he.

Memutuskan menjalani homeschooling bukanlah keputusan tiba-tiba. Sebelum Umar masuk TK wacana homeschooling sudah kami bicarakan meskipun hanya sepintas lalu. Saat lulus TK yang dijalani selama satu tahun, kami menawari Umar.
Umar mau homeschooling atau sekokah ?”
Sekolah dulu ma?” Jawabnya setelah agak lama berpikir.
Ok, tapi kalau nanti tidak nyaman bersekolah bilang ya“.

Jika ditarik jauh ke belakang, wacana homeschooling sempat terlintas ketika saya masih bersekolah. Saya bukanlah orang yang bisa menikmati masa-masa bersekolah.

Puncak ketidaknyamanan saya adalah saat SMP. Sebagai orang yang suka eksakta mempelajari ilmu sosial (geografi, Sejarah, ekonomi) dengan metode di sekolah yang lebih banyak menghafal adalah siksaan. Elektronika menjadi pelajaran favorit sekaligus hobi saya.

Lulus SMP saya bilang ke ortu
Saya mau lanjut ke STM aja
Kemudian saya melanjutkan ke sebuah STM di Purwokerto sebelum melanjutkan kuliah.

Awal yang Sulit

Setahun awal menjalani homeschooling merupakan masa paling sulit bagi kami. Tanpa informasi yang memadai dan belum mengenal komunitas adalah faktor utama yang membuat kami cukup terseok-seok menjalaninya.

Sekitar bulan Juli 2014 saya dan istri sempat bimbang apakah akan terus menjalankan homeschooling atau menyerah. Kami memutuskan untuk terus.

Keputusan ini ternyata membuka banyak kemudahan. Dimulai dari “menemukan” buku Apa itu Homeschooling karya mas Aar kemudian mengikuti webinar Rumah Inspirasi. Webinar inI kemudian membuka jalan untuk mengenal pelaku homeschooling dari seantero negeri.

Pada september 2014 terbentuklah grup Whatsapp peserta webinar Rumah Inspirasi. Grup bernama “Home Education” itu terus tumbuh dengan anggota dari berbagai daerah yang concern terhadap masalah parenting dan pendidikan baik pelaku homeschooling atau bukan. Grup ini memberi kami banyak jalan untuk mendapatkan informasi dan mengenal berbagai komunitas.

Komunitas
Mengikuti komunitas juga memberi kami banyak wawasan. Selain menambah jejaring pertemanan, komunitas juga menguatkan kami.

Dengan sedikit usaha tidak sulit menemukan komunitas HS di sekitar Jabodetabek. Sebut saja klub Oase yang dikelola mas Aar dan mba’ Lala merupakan salah satu komunitas HS senior.

Karena tinggal di Tangsel saat ini kami mengikuti klub Pijar namun tidak menutup kemungkinan kedepannya kami bergabung juga ke komunitas lain.

Di kota-kota lain kini tak sulit juga untuk menemukan komunitas HS.

Terus Belajar

Menjalani homeschooling tentu bukan hal yang mudah bagi kami. Tanpa latar belakang pendidikan memacu kami untuk terus belajar. Sebagian besar kami mempelajari ilmu parenting dan pendidikan dari buku. Kami juga banyak berdiskusi di grup dan juga membaca berbagai artikel daring.

Memilih HS yang awalnya bertujuan memberikan alternatif pendidikan bagi anak kami ternyata memberikan dampak positif lebih besar. Kami memasuki dunia baru, mengenal kawan-kawan baru, membaca buku-buku baru, dan terus belajar hal-hal baru.

Homeschooling bukan hanya tentang anak tapi juga tentang kita sebagai orang tua dan juga mungkin tentang kita menjadi manusia yang utuh.

eksperimen-homeschooling
Bereksperimen
klub-catur-homeschooling
Kelas Catur
kelas-elektronika-homeschooling
Kelas Elektronika
kelas-kerajinan-homeschooling
Kelas Kerajinan



gtag('config', 'UA-109654239-1');



Google Suite

Ingin memiliki email dengan domain sendiri dan fasilitas seperti gmail? Cobalah Google Suite.

Diluncurkan dengan nama Google App pada 28 Agustus 2006 layanan ini mengganti namanya menjadi Gogle Suite pada 29 September 2016. Saat awal duluncurkan Google App menawarkan 100 akun email gratis untuk setiap domain yang didaftarkan. Kemudian penawaran email gratis ini dikurangi menajdi 50, 10, 1 dan kemudian dihentikan sama sekali pada 6 Desember 2012. Layanan ini ditawarkan dengan pilihan harga paling murah sebesar $3 untuk paket Basic, ini sekitar Rp. 40.000. Dengan paket basic Anda mendapatkan banyak keuntungan seperti salah satunya penyimpanan email dan Google Drive sebesar 30 GB. Jika menginginkan fitur yang lebih baik sila pilih paket Business atau Enterprise.

Di situsnya mereka menyebutkan tak kurang dari 5 juta bisnis telah menggunakan layanan Google Suite. Tidak jelas betul berapa banyak yang menggunakan layanan gratis dan berbayar.

Sejak 2012 saya mengelola 2 domain milik organisasi yang memanfaatkan Google app. Kedua domain tersebut didaftarkan pada layanan Google app sejak 2010 sehingga mendapatkan 50 akun gratis per domain. Akun gratis ini terus berlaku hingga sekarang.

tampilan-konsol-admin-google-suite
Tampilan konsol admin Google Suite

Tertarik dengan layanan inI saya mendaftarkan domain pribadi dan mendapat 10 akun email gratis. Tentu saja saya tak perlu memakai 10 akun tersebut. Diluncurkannya domain.id memaksa saya harus membeli domain nasir.id. Kapan lagi punya domain keren memakai nama sendiri , mumpung belum dibeli orang lain. Sejak setahun yang lalu domain ini saya daftarkan pada Google Suite Basic dengan akun email nasir@nasir.id.  Karena layanan free sudah tidak ada lagi maka saya harus membayar $3 perbulan yang ditagihkan lewat kartu kredit.

Agar akun email yang telah kita daftarkan pada Google Suite dapat bekerja dengan baik, jangan lupa untuk mengatur MX records domain Anda.

Meskipun tidak ada kompetitor yang memberikan layanan yang sama persis dengan Google Suite, Office 365 dari Microsoft seringkali dibanding-bandingkan dengan Google Suite. Bagi saya kedua layanan tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dan tak bisa dibandingkan begitu saja. Kebetulan saya memakai keduanya.

Ingin berdiskusi lebih lanjut? Saya dapat dihubungi di nasir@nasir.id.



gtag('config', 'UA-109654239-1');



Danau Tolire






Jika singgah ke Ternate sempatkan barang sejenak mampir ke danau Tolire. Tahun 2013 bulan November saya mendapatkan kesempatan mengunjungi Ternate. Kawan saya d Ternate mengajak saya mengunjungi Danau Tolire. Danau ini terletak 10 km dari pusat kota Ternate. Sebenarnya danau Tolire ini ada, yaitu Tolire Besar dan Tolire Keci. Keduanya hanya dipisahkan jarak 200 meter. Danau Tolire Besar lah yang akan saya ceritakan disini.

danau-tolire

Bentuknya tidak seperti danau pada umumnya. Permukaan air danau terletak 50 meter di bawah dari pinggir danau. Bentuk danau ini seperti loyang raksasa sehingga lebih mirip sumur raksasa daripada danau. Sampai sekarang belum ada yang mengetahui kedalaman danau tersebut. Menurut hikayat leluluhur danau ini memiliki kedalaman berkilo-kilo meter hingga terhubung ke laut. Terletak di bawah kaki gunung Gamalama dan airnya berwarna hijau membuat danau ini terkesan magis.

Menurut hikayat danau ini dulunya adalah sebuah kampung yang masyarakatnya hidup sejahtera. Kampung ini kemudian dikutuk oleh penguasa alam semesta karena salah seorang ayah di kampung itu menghamili anak gadisnya sendiri. Saat ayah dan anak gadisnya yang dihamilinya itu akan melarikan diri ke luar kampung, tiba-tiba tanah tempat mereka berdiri anjlok dan berubah menjadi danau. Danau Tolire Besar dipercaya sebagai tempat si ayah. Sedangkan Danau Tolire Kecil diyakini sebagai tempat si gadis. Oleh karenanya Danau Tolire ini disebut juga dengan Lubang Kampung Tenggelam atau dalam bahasa Ternate disebut Tolire Gam Jaha.

https://id.wikipedia.org/wiki/Danau_Tolire



gtag('config', 'UA-109654239-1');



Jangan Percaya Film






Adegan-adegan dalam film nampak begitu nyata dan keren. Namun jangan pernah percaya dengan adegan di film. Dua cerita nyata di bawah adalah buktinya.

Cerita 1

Saat itu saya berusia 11-12 tahun. Terinspirasi dengan adegan di film, sang jagoan dengan mudah melempar golok/pisau dan menancap pada sasaran dengan mudahnya. Saya ingin menirunya, saya pasti bisa. Berdiri beberapa meter di depan pohon kelapa depan rumah, tangan kanan saya menggenggam golok dengan kencang. Membuat kuda-kuda dengan gagah seperti Brama Kumbara. Saya lempar golok ke arah pohon kelapa, lemparan saya bikin berputar persis seperti adegan di film. Sepersekian detik kemudian kepala saya terasa sakit terbentur benda dengan keras. Kemudian saya sadar bahwa golok yang saya lempar tadi alih-alih menancap di pohon kelapa seperti yang saya harapkan justru terpental dan kembali mengenai dahi saya. Untungnya yang mengenai dahi saya bagian gagang golok, bukan bagian ujungnya yang tajam. Kalau saja bagian tajamnya yang mengenai dahi, mungkin kelak saya akan membual bahwa luka di dahi akibat bertempur dengan Voldemort.

Cerita 2

Belum puas dengan adegan lempar golok, saya mengulangi lagi meniru adegan film. Jagoan di film ketika memukul atau menabrak kaca maka kaca akan pecah berkeping-keping dan jagoan tak terluka sedikitpun. Saat itu saya berusia 15 tahun. Di belakang rumah terdapat jendela yang sudah tidak terpakai. Jendela ini terbagi menjadi 6 bagian dan tiap bagian terdapat kaca yang tak terlalu tebal. Ada beberapa bagian kaca yang masih utuh.

Teringat adegan di film, saya memberanikan diri untuk menirunya. Tanpa pengaman apapun saya pukul salah satu kacanya. Kacanya memang pecah, tapi tidak berkeping-keping seperti di film. Kaca pecah tak beraturan sebesar tinju saya. Bagian kaca yang tak hancur beberapa bagiannya membentuk ujung yang tajam. Bagian tajam inilah yang menggores tangan saya yang mengepal. Ya tentu saja darah mengalir meskipun tak seberapa.

Kebodohan terulang lagi.



gtag('config', 'UA-109654239-1');



Anak dan Buku






Tiga hari yang lalu saya pulang kerja sambil membawa pesanan Umar anak saya, buku berjudul “Winnetou”. Itu adalah buku kedua karya Karl May yang kami beli. 24 jam kemudian buku setebal 346 halaman tersebut selesai dibaca Umar.

Sejak menajdi orang tua kami punya keinginan kuat agar anak-anak kelak senang membaca. Kebanyakan orang tua punya impian yang serupa.

Saya dilahirkan dan tumbuh dalam keluarga yang memiliki tradisi membaca. Bapak sangat senang membaca dan mengkoleksi banyak sekali buku – kebanyakan buku bertema agama.

Ketika pulang dari tugas luar kota seringkali bapak membawa segepok majalah bekas yang didapatkan dari temannya yang berlangganan untuk anaknya. Dan kami anak-anaknya menyambut dengan gembira oleh-oleh tersebut. Tanpa kami sadari bapak sedang menanamkan kegemaran membaca. Jika ada uang lebih kami sering menyempatkan membeli buku dari majalah Bobo bekas hingga novel Trio Detektif.

Tradisi membaca tersebut kami teruskan pada anak-anak kami. Sejak Umar kecil kami sering mengajaknya ke Gramedia atau toko buku lainnya. Kalau kantong sedang kempes cukup dengan membaca gratis di tempat kemudian pulang. Pengalaman tersebut sangat menyenangkan dan ternyata begitu mebekas bagi Umar sehingga setelah bisa membaca maka buku menajdi barang wajib yang harus kami beli dengan rutin.

Sebagaimana anak lainnya, komik menjadi salah satu kegemarannya. Dari Donal, Smurf, Tin-tin, juga beragam komik sains seperti Why dan Super Science. Akhir-akhir ini Umar lebih menikmati bacaan yang lebih berat, novel. Awalnya kami menjadikan buku “Lord of The Ring” sebagai bacaan dan narasi wajib mengikuti saran dari buku “Cinta yang Berpikir” oleh Elen Kristi. Kemudian novel-novel lainnya pun mulai dibacanya.

Selain harus rutin membeli buku, kami juga harus menghilangkan gangguan paling buruk, “TV”. Sudah lama sekali kami tidak lagi memiliki TV. Acara-acara di TV nasional yang menurut saya kurang mendidik dan tidak layak ditonton adalah salah satu alasannya. Selain itu kami ingin mengisi waktu senggang kami dengan kegiatan yang lebih bermanfaat seperti membaca.

Tahap selanjutnya kami sedang berpikir agar Umar berminat untuk menulis.

Perigi, 29 Oktober 2015



gtag('config', 'UA-109654239-1');



Tentang Kampung Halaman






Ketika berbicara tentang kampung halaman hatiku selalu masygul. Bukan karena aku punya kenangan buruk tentang kampung halaman bukan juga karena aku tak bisa pulang ke kampung halaman. Masalahnya lebih menyakitkan daripada itu. Aku tak punya kampung halaman. Bagaimana mungkin? Baiklah, akan aku definisikan dulu apa yang dimaksud kampung halaman menurutku.

Kampung halaman adalah tempat dimana kita dilahirkan dan menghabiskan masa kecil kita hingga menjelang dewasa. Tempat dimana kita punya ingatan yang mendalam tentang teman-teman bermain gundu dan petak umpet. Ingatan tentang cinta monyet pada gadis paling cantik di kampung. Dan kampung halaman adalah tempat yang selalu kita rindukan saat lebaran.

Kalau definisinya seperti itu, lantas mengapa aku tidak punya kampung halaman? Aku anak kedua dari 10 bersaudara. 10 bersaudara ini dilahirkan di 8 kota berbeda. Kalau dikalkulasi, rata-rata kami tinggal selama 2 tahun di tiap kota yang kami singgahi. Tuntutan pekerjaan bapak yang mengharuskan kami hidup seperti kaum hippies.

Setelah bapak pensiun, orang tua dan adik-adik yg masih kecil kembali ke kampung halaman bapak di Ambarawa. Kemudian ada kesepakatan tidak tertulis bahwa kampung halaman kami adalah Ambarawa. Jika orang bertanya ” asli mana”? Kami dengan tegas menjawab ” Ambarawa” atau “Salatiga” atau “Semarang” meskipun lokasi persisnya tidak di ketiga tempat itu, tapi di Dusun Karang Kec. Banyubiru Kab. Semarang.

Sebelum Bapak pensiun kami selalu menjawab pertanyaan mengenai kampung halaman dengan tempat dimana kami tinggal, yang berarti berubah setiap 2 tahun. Setelah Bapak pensiun kami punya “kampung halaman” yang tidak lagi berubah. Dan itu sebuah anugerah.

Keadaan ini menjadikan aku orang yang suka berpetualang sekaligus mudah jenuh. Aku bisa mengerti dan berbicara bahasa jawa dari berbagai dialek. Jika aku bertemu orang Jawa Timur, dengan mudah aku akan berbicara dengan dialek suroboyoan dan tidak lupa dengan kata “jancuuuk”. Akupun akan dengan lancarnya berbicara dengan dialek “ngapak” sama mudahnya dengan berbicara dialek “mataraman”. Bahasa Sunda pun aku mengerti meskipun cukup sulit untuk berbicara dengan bahasa yang indah mendayu ini.

Keinginanku berpetualang terkabul saat aku mulai bekerja. Dengan pekerjaanku sekarang ini memberi kesempatanku untuk mengelilingi Nusantara. Aku pernah menyinggahi Sabang, Atambua, pedalaman Riau, danau Toba dan berbagai tempat lainnya dengan biaya kantor (ini yang penting).

Dan ketika orang bertanya padaku “aslinya mana?” aku kembali masygul menerjemahkan makna “kampung halaman”.

Perigi, Akhir 2013



gtag('config', 'UA-109654239-1');