Memilih Homeschooling






Umar kelas berapa ?”

Ini adalah pertanyaan paling sulit dijawab ketika mudik kemarin. Biasanya Umar menjawab “kelas lima” sambil malu-malu dan sedikit melirik kedua orangtuanya. Kepada sebagian penanya kami akan menjelaskan tentang homeschooling, sebagian yang lain cukup puas dengan jawaban singkat tadi.

Pertanyaan tersebut sebenarnya cukup mudah dijawab bagi anak lain yang bersekolah formal. Tapi bagi sebagian pelaku homeschooling pertanyaan tersebut menjadi rumit.

Tidak Tiba-Tiba
Umar gak mau sekolah

Itu diucapkan Umar sekitar september-oktober 2013. Setelah masuk SD selama hampir 3 bulan, kemudian dia memutuskan untuk tidak lagi bersekolah. Awalnya 2 minggu tidak masuk sekolah karena sakit kemudian bablas mbolosnya, he he.

Memutuskan menjalani homeschooling bukanlah keputusan tiba-tiba. Sebelum Umar masuk TK wacana homeschooling sudah kami bicarakan meskipun hanya sepintas lalu. Saat lulus TK yang dijalani selama satu tahun, kami menawari Umar.
Umar mau homeschooling atau sekokah ?”
Sekolah dulu ma?” Jawabnya setelah agak lama berpikir.
Ok, tapi kalau nanti tidak nyaman bersekolah bilang ya“.

Jika ditarik jauh ke belakang, wacana homeschooling sempat terlintas ketika saya masih bersekolah. Saya bukanlah orang yang bisa menikmati masa-masa bersekolah.

Puncak ketidaknyamanan saya adalah saat SMP. Sebagai orang yang suka eksakta mempelajari ilmu sosial (geografi, Sejarah, ekonomi) dengan metode di sekolah yang lebih banyak menghafal adalah siksaan. Elektronika menjadi pelajaran favorit sekaligus hobi saya.

Lulus SMP saya bilang ke ortu
Saya mau lanjut ke STM aja
Kemudian saya melanjutkan ke sebuah STM di Purwokerto sebelum melanjutkan kuliah.

Awal yang Sulit

Setahun awal menjalani homeschooling merupakan masa paling sulit bagi kami. Tanpa informasi yang memadai dan belum mengenal komunitas adalah faktor utama yang membuat kami cukup terseok-seok menjalaninya.

Sekitar bulan Juli 2014 saya dan istri sempat bimbang apakah akan terus menjalankan homeschooling atau menyerah. Kami memutuskan untuk terus.

Keputusan ini ternyata membuka banyak kemudahan. Dimulai dari “menemukan” buku Apa itu Homeschooling karya mas Aar kemudian mengikuti webinar Rumah Inspirasi. Webinar inI kemudian membuka jalan untuk mengenal pelaku homeschooling dari seantero negeri.

Pada september 2014 terbentuklah grup Whatsapp peserta webinar Rumah Inspirasi. Grup bernama “Home Education” itu terus tumbuh dengan anggota dari berbagai daerah yang concern terhadap masalah parenting dan pendidikan baik pelaku homeschooling atau bukan. Grup ini memberi kami banyak jalan untuk mendapatkan informasi dan mengenal berbagai komunitas.

Komunitas
Mengikuti komunitas juga memberi kami banyak wawasan. Selain menambah jejaring pertemanan, komunitas juga menguatkan kami.

Dengan sedikit usaha tidak sulit menemukan komunitas HS di sekitar Jabodetabek. Sebut saja klub Oase yang dikelola mas Aar dan mba’ Lala merupakan salah satu komunitas HS senior.

Karena tinggal di Tangsel saat ini kami mengikuti klub Pijar namun tidak menutup kemungkinan kedepannya kami bergabung juga ke komunitas lain.

Di kota-kota lain kini tak sulit juga untuk menemukan komunitas HS.

Terus Belajar

Menjalani homeschooling tentu bukan hal yang mudah bagi kami. Tanpa latar belakang pendidikan memacu kami untuk terus belajar. Sebagian besar kami mempelajari ilmu parenting dan pendidikan dari buku. Kami juga banyak berdiskusi di grup dan juga membaca berbagai artikel daring.

Memilih HS yang awalnya bertujuan memberikan alternatif pendidikan bagi anak kami ternyata memberikan dampak positif lebih besar. Kami memasuki dunia baru, mengenal kawan-kawan baru, membaca buku-buku baru, dan terus belajar hal-hal baru.

Homeschooling bukan hanya tentang anak tapi juga tentang kita sebagai orang tua dan juga mungkin tentang kita menjadi manusia yang utuh.

eksperimen-homeschooling
Bereksperimen
klub-catur-homeschooling
Kelas Catur
kelas-elektronika-homeschooling
Kelas Elektronika
kelas-kerajinan-homeschooling
Kelas Kerajinan



gtag('config', 'UA-109654239-1');



Anak dan Buku






Tiga hari yang lalu saya pulang kerja sambil membawa pesanan Umar anak saya, buku berjudul “Winnetou”. Itu adalah buku kedua karya Karl May yang kami beli. 24 jam kemudian buku setebal 346 halaman tersebut selesai dibaca Umar.

Sejak menajdi orang tua kami punya keinginan kuat agar anak-anak kelak senang membaca. Kebanyakan orang tua punya impian yang serupa.

Saya dilahirkan dan tumbuh dalam keluarga yang memiliki tradisi membaca. Bapak sangat senang membaca dan mengkoleksi banyak sekali buku – kebanyakan buku bertema agama.

Ketika pulang dari tugas luar kota seringkali bapak membawa segepok majalah bekas yang didapatkan dari temannya yang berlangganan untuk anaknya. Dan kami anak-anaknya menyambut dengan gembira oleh-oleh tersebut. Tanpa kami sadari bapak sedang menanamkan kegemaran membaca. Jika ada uang lebih kami sering menyempatkan membeli buku dari majalah Bobo bekas hingga novel Trio Detektif.

Tradisi membaca tersebut kami teruskan pada anak-anak kami. Sejak Umar kecil kami sering mengajaknya ke Gramedia atau toko buku lainnya. Kalau kantong sedang kempes cukup dengan membaca gratis di tempat kemudian pulang. Pengalaman tersebut sangat menyenangkan dan ternyata begitu mebekas bagi Umar sehingga setelah bisa membaca maka buku menajdi barang wajib yang harus kami beli dengan rutin.

Sebagaimana anak lainnya, komik menjadi salah satu kegemarannya. Dari Donal, Smurf, Tin-tin, juga beragam komik sains seperti Why dan Super Science. Akhir-akhir ini Umar lebih menikmati bacaan yang lebih berat, novel. Awalnya kami menjadikan buku “Lord of The Ring” sebagai bacaan dan narasi wajib mengikuti saran dari buku “Cinta yang Berpikir” oleh Elen Kristi. Kemudian novel-novel lainnya pun mulai dibacanya.

Selain harus rutin membeli buku, kami juga harus menghilangkan gangguan paling buruk, “TV”. Sudah lama sekali kami tidak lagi memiliki TV. Acara-acara di TV nasional yang menurut saya kurang mendidik dan tidak layak ditonton adalah salah satu alasannya. Selain itu kami ingin mengisi waktu senggang kami dengan kegiatan yang lebih bermanfaat seperti membaca.

Tahap selanjutnya kami sedang berpikir agar Umar berminat untuk menulis.

Perigi, 29 Oktober 2015



gtag('config', 'UA-109654239-1');