Tentang Kampung Halaman






Ketika berbicara tentang kampung halaman hatiku selalu masygul. Bukan karena aku punya kenangan buruk tentang kampung halaman bukan juga karena aku tak bisa pulang ke kampung halaman. Masalahnya lebih menyakitkan daripada itu. Aku tak punya kampung halaman. Bagaimana mungkin? Baiklah, akan aku definisikan dulu apa yang dimaksud kampung halaman menurutku.

Kampung halaman adalah tempat dimana kita dilahirkan dan menghabiskan masa kecil kita hingga menjelang dewasa. Tempat dimana kita punya ingatan yang mendalam tentang teman-teman bermain gundu dan petak umpet. Ingatan tentang cinta monyet pada gadis paling cantik di kampung. Dan kampung halaman adalah tempat yang selalu kita rindukan saat lebaran.

Kalau definisinya seperti itu, lantas mengapa aku tidak punya kampung halaman? Aku anak kedua dari 10 bersaudara. 10 bersaudara ini dilahirkan di 8 kota berbeda. Kalau dikalkulasi, rata-rata kami tinggal selama 2 tahun di tiap kota yang kami singgahi. Tuntutan pekerjaan bapak yang mengharuskan kami hidup seperti kaum hippies.

Setelah bapak pensiun, orang tua dan adik-adik yg masih kecil kembali ke kampung halaman bapak di Ambarawa. Kemudian ada kesepakatan tidak tertulis bahwa kampung halaman kami adalah Ambarawa. Jika orang bertanya ” asli mana”? Kami dengan tegas menjawab ” Ambarawa” atau “Salatiga” atau “Semarang” meskipun lokasi persisnya tidak di ketiga tempat itu, tapi di Dusun Karang Kec. Banyubiru Kab. Semarang.

Sebelum Bapak pensiun kami selalu menjawab pertanyaan mengenai kampung halaman dengan tempat dimana kami tinggal, yang berarti berubah setiap 2 tahun. Setelah Bapak pensiun kami punya “kampung halaman” yang tidak lagi berubah. Dan itu sebuah anugerah.

Keadaan ini menjadikan aku orang yang suka berpetualang sekaligus mudah jenuh. Aku bisa mengerti dan berbicara bahasa jawa dari berbagai dialek. Jika aku bertemu orang Jawa Timur, dengan mudah aku akan berbicara dengan dialek suroboyoan dan tidak lupa dengan kata “jancuuuk”. Akupun akan dengan lancarnya berbicara dengan dialek “ngapak” sama mudahnya dengan berbicara dialek “mataraman”. Bahasa Sunda pun aku mengerti meskipun cukup sulit untuk berbicara dengan bahasa yang indah mendayu ini.

Keinginanku berpetualang terkabul saat aku mulai bekerja. Dengan pekerjaanku sekarang ini memberi kesempatanku untuk mengelilingi Nusantara. Aku pernah menyinggahi Sabang, Atambua, pedalaman Riau, danau Toba dan berbagai tempat lainnya dengan biaya kantor (ini yang penting).

Dan ketika orang bertanya padaku “aslinya mana?” aku kembali masygul menerjemahkan makna “kampung halaman”.

Perigi, Akhir 2013



gtag('config', 'UA-109654239-1');



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *